Tongkang Batu Bara CSF 2701 Bocor dan Kandas di Pulau Dedap, Penanganan Tunggu Proses Salvage

Sanggam : "Dapat kami sampaikan bahwa dari kemarin siang sampai dengan saat ini KN Kalimasadha P.115 sedang di lokasi sebagai pengawasan"

 

BATAM, sentinelpraja.com — Tongkang TK CSF 2701 yang ditarik Tugboat (TB) Putra Batanghari dilaporkan mengalami kemiringan dan kebocoran hingga akhirnya dikandaskan di sekitar perairan Pulau Dedap, sebelah selatan Pulau Galang Baru, Batam.

Tongkang tersebut membawa muatan batu bara dari Jambi menuju PETEKA Kabil, Batam. Dalam laporan sementara yang diterima otoritas pelayaran, agen yang tercatat adalah FED Adhiguna Samudra Trans.

Insiden ini kini menjadi perhatian karena selain menyangkut keselamatan pelayaran dan kondisi badan tongkang, terdapat informasi dari nelayan di sekitar lokasi yang menyebut sebagian badan tongkang telah kemasukan air dan menduga adanya muatan batu bara yang mulai keluar ke perairan.

Namun, dugaan tersebut belum dapat disimpulkan sebagai pencemaran. Laporan sementara menyebut belum ditemukan adanya pencemaran akibat kejadian tersebut. Karena itu, diperlukan pemeriksaan lapangan untuk memastikan kondisi sebenarnya.

KSOP Batam : Penanganan Berada di Wilayah PLP Tanjung Uban

Kepala KSOP Khusus Batam M. Takwim Masuku, S.T., M.MT., ketika dikonfirmasi media mengenai kejadian tersebut menjelaskan bahwa penanganan insiden bukan berada langsung di bawah KSOP Khusus Batam.

“Terkait kejadian tersebut tidak ditangani oleh KSOP, tapi oleh Pangkalan PLP Tanjung Uban, merupakan wilayah pengawasan dan Pangkalan PLP Tanjung Uban,” ujar M. Takwim dalam keterangannya.

Pernyataan tersebut sekaligus memperjelas bahwa penanganan operasional terhadap insiden TK CSF 2701 berada dalam kewenangan pengawasan Pangkalan PLP Tanjung Uban.

Sebelumnya, laporan mengenai kejadian tersebut mencatat bahwa TK CSF 2701 mengalami kemiringan. TB Putra Batanghari kemudian mengambil tindakan dengan mengandaskan tongkang di sekitar Pulau Dedap sebagai langkah awal untuk menangani kondisi kapal.

KN Kalimasadha P.115 Sudah Berada di Lokasi

Perkembangan terbaru menunjukkan bahwa unsur Pangkalan PLP Tanjung Uban telah melakukan pengawasan di lokasi.

Sanggam dari KPLP Tanjung Uban membenarkan bahwa KN Kalimasadha P.115 telah berada di lokasi sejak siang hari sebelumnya.

“Dapat kami sampaikan bahwa dari kemarin siang sampai dengan saat ini KN Kalimasadha P.115 sedang di lokasi sebagai pengawasan,” ujar Sanggam ketika dikonfirmasi.

Kehadiran kapal negara tersebut menunjukkan bahwa insiden TK CSF 2701 telah mendapat perhatian dalam aspek pengawasan keselamatan dan penanganan pelayaran.

Namun, KPLP Tanjung Uban belum memberikan penjelasan lebih jauh mengenai tindakan teknis yang akan dilakukan terhadap tongkang, termasuk proses pengamanan badan tongkang, muatan batu bara maupun langkah lanjutan setelah kapal mengalami kebocoran dan kandas.

Menurut Sanggam, pihak pemilik maupun agen terkait telah mengajukan surat dan kini masih menunggu jawaban dari Direktorat KPLP terkait proses salvage.

“Namun kami belum bisa sampaikan hal-hal terkait penanganan oleh pihak owner maupun agen tongkang/TB tersebut. Mereka sudah bersurat dan masih menunggu surat balasan dari Direktorat KPLP untuk surat salvage-nya,” jelasnya.

Kebocoran Belum Terungkap, Kondisi Muatan Jadi Sorotan

Persoalan yang belum terjawab hingga kini adalah apa penyebab TK CSF 2701 mengalami kemiringan dan kebocoran.

Laporan awal menyebut penyebab kebocoran belum diketahui. Kondisi lambung tongkang, titik masuknya air, stabilitas kapal, hingga dampaknya terhadap ruang muatan masih membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut.

Di sisi lain, keterangan nelayan di sekitar Pulau Dedap menyebut sekitar seperempat bagian badan tongkang telah masuk air. Mereka juga mengkhawatirkan kemungkinan sebagian batu bara keluar dari tongkang.

Keterangan nelayan tersebut belum merupakan hasil pemeriksaan resmi dan tidak dapat langsung disimpulkan sebagai fakta pencemaran.

Tetapi informasi tersebut menjadi penting untuk diverifikasi, terutama karena tongkang membawa muatan batu bara dan berada di wilayah perairan yang juga menjadi ruang aktivitas masyarakat pesisir.

Pertanyaan yang kini membutuhkan jawaban bukan hanya apakah tongkang mengalami kebocoran, tetapi juga seberapa parah kebocoran tersebut, berapa banyak air yang telah masuk, apakah ruang muatan terdampak, dan apakah terdapat batu bara yang keluar ke perairan.

Laporan Belum Ada Pencemaran Perlu Dibuktikan di Lapangan

Laporan sementara menyebut belum terdapat pencemaran akibat insiden tersebut.

Namun, kondisi itu tetap perlu dikonfirmasi melalui pemeriksaan lapangan, terutama setelah muncul keterangan nelayan mengenai dugaan tumpahan batu bara.

Jika memang tidak terjadi tumpahan, pemeriksaan dapat menjadi dasar untuk memastikan bahwa muatan masih berada dalam kondisi aman. Sebaliknya, apabila ditemukan material batu bara yang masuk ke perairan, perlu diketahui luas area terdampak dan langkah mitigasi yang harus dilakukan.

Dengan demikian, pernyataan mengenai ada atau tidaknya pencemaran tidak semestinya hanya berhenti pada laporan administratif, tetapi perlu diperkuat dengan pemeriksaan kondisi perairan dan badan tongkang.

Menunggu Salvage, Keselamatan dan Lingkungan Harus Tetap Dijaga

Saat ini KN Kalimasadha P.115 berada di lokasi untuk melakukan pengawasan, sementara pihak owner dan agen masih menunggu balasan dari Direktorat KPLP terkait pengajuan proses salvage.

Situasi tersebut menjadi penting karena TK CSF 2701 bukan hanya sebuah tongkang yang mengalami kandas, tetapi juga membawa muatan batu bara dan berada dalam kondisi yang dilaporkan mengalami kebocoran.

Semakin lama tongkang berada dalam kondisi tersebut, semakin penting memastikan stabilitas badan kapal, keselamatan pelayaran di sekitar lokasi, keamanan muatan, serta kondisi lingkungan perairan.

Redaksi sentinelpraja.com terus melakukan konfirmasi kepada pihak-pihak terkait, termasuk KSOP Khusus Batam, Pangkalan PLP Tanjung Uban, Syahbandar, Gakkum, agen pelayaran, serta pihak owner untuk memperoleh informasi yang utuh dan berimbang.

Hingga berita ini disusun, penyebab pasti kebocoran, kondisi aktual badan tongkang, kondisi muatan batu bara, serta ada atau tidaknya tumpahan ke perairan masih menunggu hasil pemeriksaan resmi.

 

Yang jelas, insiden TK CSF 2701 bukan semata persoalan tongkang yang miring dan kandas. Di dalamnya terdapat aspek keselamatan pelayaran, keamanan muatan, kepentingan nelayan, serta potensi dampak terhadap lingkungan perairan yang seluruhnya perlu dipastikan penanganannya secara transparan dan terukur.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *